Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Selat yang berada di antara Iran dan Oman ini menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Posisinya yang menjadi pintu keluar masuk berbagai komoditas energi membuat Selat Hormuz memiliki peran besar dalam perdagangan minyak dan gas dunia. Gangguan terhadap jalur ini dapat memengaruhi distribusi energi, biaya pengiriman, harga komoditas, hingga perekonomian negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Dalam perkembangan terbaru 2026, arti penting Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia karena aktivitas pelayaran dan distribusi energi di kawasan tersebut mengalami gangguan besar.

Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?

Selat Hormuz termasuk chokepoint energi, yaitu jalur sempit yang memiliki posisi penting dalam distribusi komoditas energi global.

Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa pada paruh pertama 2025, sekitar 20,9 juta barel minyak dan produk minyak per hari melewati Selat Hormuz. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 persen konsumsi petroleum liquids dunia dan sekitar seperempat perdagangan minyak melalui jalur laut.

Selain minyak, Selat Hormuz juga menjadi jalur penting bagi perdagangan gas alam cair atau LNG. EIA memperkirakan sekitar 11,4 miliar kaki kubik LNG per hari melewati selat tersebut pada paruh pertama 2025.

Kondisi tersebut membuat setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat memberikan dampak yang jauh melampaui kawasan Timur Tengah.

Negara Mana yang Bergantung pada Selat Hormuz?

Sebagian besar minyak yang melewati Selat Hormuz menuju pasar Asia.

Menurut EIA, sekitar 89 persen minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz pada paruh pertama 2025 ditujukan ke pasar Asia. China, India, Jepang dan Korea Selatan menjadi tujuan utama dan secara bersama-sama menyerap sekitar 74 persen aliran minyak mentah dan kondensat melalui selat tersebut.

Hal ini menjadikan perkembangan di Selat Hormuz sangat penting bagi negara-negara Asia yang membutuhkan pasokan energi dari kawasan Teluk.

Kondisi Selat Hormuz pada 2026

Situasi Selat Hormuz mengalami perubahan besar sepanjang 2026. Data EIA menunjukkan rata-rata volume minyak yang melewati selat turun dari sekitar 20,9 juta barel per hari pada kuartal pertama 2025 menjadi sekitar 14,9 juta barel per hari pada kuartal pertama 2026. Pada kuartal kedua 2026, angkanya turun lebih jauh menjadi sekitar 4,9 juta barel per hari.

Aliran LNG juga mengalami penurunan yang sangat besar. EIA mencatat volume LNG yang melewati Selat Hormuz turun menjadi sekitar 0,8 miliar kaki kubik per hari pada kuartal kedua 2026, dibandingkan 7,4 miliar kaki kubik per hari pada kuartal pertama.

Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana konflik dan gangguan keamanan di kawasan dapat secara langsung memengaruhi jalur perdagangan energi.

Lalu Lintas Kapal Mengalami Penurunan

Penurunan aktivitas juga terlihat dari jumlah kapal yang melintas.

Reuters melaporkan bahwa pada akhir pekan 19–20 September 2026 hanya terdapat 17 kapal komoditas yang tercatat melintasi Selat Hormuz, turun dari 37 kapal pada akhir pekan sebelumnya. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata sekitar 125 kapal komersial besar per hari sebelum konflik meningkat pada akhir Februari 2026.

Namun, angka pelacakan kapal tidak selalu menggambarkan keseluruhan aktivitas karena sebagian kapal dilaporkan mematikan sistem AIS untuk mengurangi visibilitas.

Dengan demikian, perdagangan energi melalui Hormuz belum sepenuhnya berhenti, tetapi berlangsung dalam kondisi yang jauh berbeda dibandingkan situasi normal.

Selat Hormuz sebagai Instrumen Kekuasaan Energi

Pentingnya Selat Hormuz bukan hanya karena lokasinya, tetapi juga karena posisi geografisnya memberikan pengaruh besar terhadap arus energi dunia.

Negara-negara produsen minyak dan gas di kawasan Teluk menggunakan jalur tersebut untuk mengirimkan komoditas energi menuju berbagai negara tujuan.

Di sisi lain, negara-negara pengimpor energi membutuhkan jalur tersebut agar pasokan dapat diterima secara berkelanjutan.

Karena itu, keamanan dan stabilitas Selat Hormuz memiliki dimensi ekonomi sekaligus geopolitik.

Ketika lalu lintas energi terganggu, dampaknya dapat muncul dalam bentuk perubahan harga minyak, meningkatnya biaya pengangkutan, kenaikan premi asuransi kapal dan perubahan rute perdagangan.

Dampaknya terhadap Harga Energi

Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz dapat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan pasokan.

Pada September 2026, harga minyak dunia kembali bergerak mengikuti perkembangan mengenai arus ekspor Timur Tengah. Reuters melaporkan harga Brent sempat berada di sekitar US$99,94 per barel pada 22 September 2026, sementara WTI berada di sekitar US$95,43 per barel.

Namun harga minyak tidak hanya ditentukan oleh kondisi Selat Hormuz. Produksi global, stok minyak, keputusan negara-negara produsen, permintaan dunia, kondisi geopolitik serta jalur alternatif juga turut memengaruhi harga.

Ada Jalur Alternatif, tetapi Kapasitasnya Terbatas

Beberapa negara produsen memiliki jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.

EIA mencatat bahwa jaringan pipa di Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Iran dapat mengalihkan sebagian volume minyak. Namun kapasitas jalur alternatif tersebut hanya mampu menangani sebagian dari volume yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Arab Saudi, misalnya, memiliki East-West Pipeline yang menghubungkan wilayah produksi minyak dengan pelabuhan di Laut Merah.

Pada September 2026, jalur tersebut kembali menjadi perhatian setelah sempat mengalami gangguan. Reuters melaporkan Arab Saudi kemudian memulai kembali operasional pipa tersebut dengan kapasitas yang masih terbatas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa jalur alternatif memang dapat membantu, tetapi belum sepenuhnya menggantikan fungsi Selat Hormuz.

Dampak bagi Asia

Asia menjadi salah satu kawasan yang paling berkaitan dengan perkembangan Selat Hormuz karena sebagian besar minyak dan LNG yang melewati kawasan tersebut menuju pasar Asia.

China, India, Jepang dan Korea Selatan merupakan beberapa negara utama yang menerima energi dari jalur tersebut.

Gangguan berkepanjangan dapat memberikan tekanan terhadap biaya energi dan transportasi, terutama jika pasokan alternatif membutuhkan perjalanan yang lebih panjang atau biaya pengiriman yang lebih tinggi.

Bagaimana Dampaknya bagi Indonesia?

Indonesia tidak berada di kawasan Teluk Persia, tetapi perkembangan Selat Hormuz tetap memiliki arti bagi perekonomian nasional.

Indonesia merupakan bagian dari pasar energi Asia sehingga perubahan harga minyak dan gas dunia dapat memengaruhi biaya impor energi, transportasi, industri dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia juga menerbitkan buku “Selat Hormuz dan Ketahanan Nasional Indonesia: Strategi Geopolitik Menghadapi Disrupsi Global” pada Maret 2026. Buku tersebut membahas keterkaitan Selat Hormuz dengan ketahanan energi, ekonomi dan geopolitik Indonesia.

Artinya, persoalan Selat Hormuz tidak hanya menjadi isu bagi negara-negara Timur Tengah, tetapi juga memiliki kaitan dengan ketahanan ekonomi Indonesia.

Selat Hormuz dan Masa Depan Perdagangan Energi

Perkembangan 2026 memperlihatkan bahwa jalur perdagangan energi dunia sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan keamanan.

IEA menyebut gangguan terhadap Selat Hormuz pada 2026 telah memberikan guncangan besar terhadap pasar gas alam global. Aliran LNG melalui selat tersebut sebelumnya menyumbang hampir 20 persen pasokan LNG dunia, sementara pemulihan arus perdagangan masih menghadapi ketidakpastian.

Dalam jangka panjang, situasi tersebut dapat mendorong negara-negara importir untuk memperkuat cadangan energi, mencari pemasok alternatif, mengembangkan infrastruktur penyimpanan serta memperluas sumber energi lain.

Selat Hormuz Tetap Menjadi Titik Strategis Dunia

Selat Hormuz menunjukkan bagaimana sebuah jalur laut yang relatif sempit dapat memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi global.

Besarnya volume minyak dan LNG yang secara historis melewati kawasan tersebut membuat stabilitas Hormuz berkaitan erat dengan keamanan energi dunia. Ketika kondisi keamanan terganggu, dampaknya dapat dirasakan melalui perubahan arus perdagangan, biaya logistik dan pergerakan harga energi.

Bagi Indonesia dan negara-negara Asia lainnya, perkembangan Selat Hormuz menjadi pengingat bahwa ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh produksi dalam negeri, tetapi juga oleh stabilitas jalur perdagangan internasional.